
Hai …. Hai …. Hai ….
Author balik lagi nih!
Akhirnya dapet ide juga buat bikin novel khayalan ini. Ya… Walaupun sepertinya peminatnya masih belum banyak, semoga setelah prolog ini keluar, peminatnya bertambah ya
Gak mau banyak omong, langsung reviews aja deh ya 🤗 selamat membaca…
***
Menikah? Oh Tuhan… Itu semua menjadi keinginan setiap wanita di dunia, kurasa.
Mengenakan gaun putih yang cantik dan riasan, ditambah berdiri di hadapan semua orang lalu diucapkan janji setia oleh orang yang kita cintai, bukankah itu hal yang luar biasa?
Hanya membayangkannya saja sudah membuat jantung berdebar, apalagi saat hari itu tiba, coba!
Tapi tak semua keinginan itu bisa terwujud dengan mudah dan mulus tanpa hambatan. Bahkan tak pernah terbersit sedikit pun di pikiranku bayangan peristiwa buruk terjadi padaku terutama di hari yang menjadi mome bahagiaku, sekali seumur hidupku.
Aku gagal menikah…
Hari itu adalah H-7 pernikahan kami. Yang tanpa kusangka akan menjadi hari terburuk dalam hidupku juga hidupnya. Terjadi peristiwa kecelakaan lalu lintas menimpa kami.
Siang itu Aku dan kekasihku, Bima memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebentar mengililingi kota Bogor. Hanya iseng, awalnya. Hanya untuk menghirup udara segar. Karena menurut kami, kami ingin menikmati detik-detik terakhir masa lajang kami bersama sebelum akhirnya kami menikah. Kami pun berpikir tak ada salahnya jika kami bersenang-senang bersama sebelum menyandang status baru, yaitu sebagi seorang istri juga suami.
Sebelum pergi Ibuku meminta kami untuk membatalkan niat kami itu. Karena menurutnya, calon pengantin itu tidak diperkenankan untuk keluyuran keluar rumah. Takut terjadi hal yang tidak-tidak nantinya. Jadi sebaiknya tetap bersabar menunggu di rumah sampai pada hari H.
Hanya saja kenakalan kami lah yang pada akhirnya merusak segala impian kami. Saat itu kami berpikir kalau Ibuku terlalu kolot dan keprimbonan. Sudah bukan zamannya lagi percaya dengan tahayul atau mitos. Kami pun tak mengindahkan perkataannya dan bersikukuh untuk tetap pergi.
“Jangan khawatir, Bu.” Kata Bima santai, sambil bersiap memasangkan sabuk pengamannya. “Saya akan menjaga baik-baik Rasti. Karena bagaimana pun sebentar lagi dia akan menjadi tanggung jawab saya. Jadi Anda tidak perlu terlalu khawatir dan tolong percayakan kepada saya untuk kali ini saja.” Bima berusaha meyakinkan Ibuku bahwa dirinya bisa diandalkan. Dan aku suka melihatnya memperjuangkanku juga keegoisanku di hadapan Ibuku sendiri. Hihihi…
“Iya, Bu. Kami akan baik-baik saja. Ibu masakkan saja untukku dan Bambam makanan yang enak selama kami pergi nanti ya, Bu. Kumohon… Setelah ini kita akan makan sama-sama. Ya? ya? ya? Ayolah Ibu… ” Kataku ikut merayu Ibu dengan sedikit manja.
“Astaga, kalian ini benar-benar ya. Terserah lah. Pokoknya Ibu ingin anak Ibu pulang dengan keadaan utuh seperti saat ini. Pastikan tidak ada lecet sedikitpun di tubuhnya ya, Bambam! Kau mengerti?” Pesan Ibu mewanti-wanti calon menantunya sebelum kami meninggalkan rumah.
“Siap, laksanakan, Ibu!” Jawab Bima lugas dengan gestur menghormat. Kami pun pergi meninggalkan Ibuku dengan riangnya tanpa lupa melambaikan tangan.
Selama perjalanan, kami begitu menikmati suasana. Bima membuka atap mobilnya agar aku bisa leluasa menikmati angin dan udara katanya. Dia juga memutar tune MP3 mobilnya. Sebuah lagu dari GOT7, Never Ever. Ya, meski aku benci mengakuinya, tapi dia memang cowok K-Pop-ers. Karenanya dia sering memutar dan menyanyikan lagu-lagu K-Pop. Pernah kutanyakan alasannya, kenapa dia begitu menyukai lagu-lagi Korea. Jawabannya simpel, karena musik K-Pop itu bebas. “Kau bisa bernyanyi dan menari. Bahkan kalau aku diizinkan, aku ingin sekali menjadi bagian dari salah satu grup itu.” Hmm… Aku hanya menanggapi nya dengan kemaklumanku. Tapi harus kuakui, Bima memiliki suara yang bagus dan dia pun pandai melenggak-lenggokkan tubuhnya. Seperti memiliki bakat terpendam. Tapi ini Indonesia bukan Korea, ia pun sadar harus mengakui perbedaan itu. Dan mungkin ia pun harus merelakan impiannya itu.
Bima menggodaku dengan menyanyikan salah satu part dari lagu itu dengan suara yang lantang. Bahkan teriakannya memancing perhatian pengendara lainnya yang kami lalui.
“Never Ever! Never gonna let You go!..”
Ada saja tingkah tengilnya. Bima selalu bisa membuatku tersenyum dan tertawa ketika kami sedang bersama. Entah sihir apa yang dimilikinya hingga aku selalu dibuat luluh oleh segala tingkah polah ya yang kekanakan itu. Haahh… Aku bersyukur karena Tuhan mengirimmu padaku. Mungkin ini hadiah dari Tuhan karena karena selama ini aku telah menjadi anak yang penurut dan berbakti.
“Ah… Kau benar-benar membuatku malu, sayang. Lihat, mereka memperhatikan kita, tuh!” Kritikku manja sambil menyembunyikan wajahku dari tatapan orang-orang.
“Tidak apa, sayang… Akan aku buat mereka iri lebih dari ini.” Jawabnya sembari tersenyum sumringah.
Bisa kulihat suasana senang di hatinya. Wajahnya tampak berseri-seri. Belum pernah aku melihatnya tertawa lepas seperti itu. Aku pun berusaha menyatu dengannya dan menikmati cuaca cerah hari itu.
Aku menyandarkan kepalaku di bibir pintu mobil. Kututup mataku dan kurasakan tiupan angin kencang yang berhembus menerpa rambut panjangku. Beberapa helai rambut menyapu wajahku dan menutupi sebagian wajahku.
Tiba-tiba saja kurasakan belaian lembut tangan Bima yang berusaha menyingkirkan rambut di wajahku. Aku terkejut dan terkesiap karena sikapnya. Lagi-lagi ia serang aku dengan senyum manis di wajah tampannya itu. Namun sejenak hatiku berkata ada yang lain. Entah kenapa aku merasa hari itu Bima terasa berbeda sekali. Ia begitu hangat, romantis dan sukses membuatku meleleh ambyar.
Kuperhatikan dengan cukup detil apa yang ada di tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Dari gaya pakaiannya, rambutnya, wajahnya, hingga perlakuannya padaku. Dia benar-benar membuatku seperti melayang di udara. Dia mengerti betul bagaimana caranya menyenangkanku. Seakan-akan ingin membuktikan bahwa aku tidak salah memilih pasangan untuk aku nikahi.
“Rasti,” panggilnya dengan nada super lembut. Tangannya menggenggam erat setiap ruas jemariku dan mengaitkannya satu persatu.
“…Aku mencintaimu.” Lanjutnya dengan tatapan kuat.
Bima lalu mencium tanganku. Dia tersenyum dan sekali lagi menatapku lekat, namun kali ini ia cukup lama memandangiku. Sampai-sampai ia tidak fokus dengan apa-apa yang melintas di jalur depan mobil yang sedang kami naiki.
Tiba-tiba saja aku melihat sebuah motor besar tipe Ninja 250cc melintas di hadapan kami hendak melintasi persimpangan yang tak jauh di depan kami. Namun Bima terlambat menyadari bahwa lampu lalu lintas telah berwarna merah. Spontan ia pun terkejut dan berusaha secepat mungkin menghindari motor itu dengan membanting setir ke pinggir trotoar. Sayangnya mobil kami justru malah menabrak tiang lampu lalu lintas yang lain hingga tiang tersebut terjatuh.
Itulah saat-saat terakhir yang masih mampu kuingat. Setelahnya aku pun mulai tak sadarkan diri. Kepalaku sakit karena membentur pintu mobil. Sekujur tubuhku terasa tercabik-cabik dengan rasa sakit yang tak sanggup aku utarakan dengan kata-kata. Perlahan-lahan pandanganku kabur dan menjadi gelap. Oh Tuhan, tolong selamatkan kami…
Bima…
***
“Hei, mau kemana, Tang ?” Tanya Dika seraya mengejarku karena heran dengan sikapku yang tiba-tiba berubah emosi dan pergi meninggalkan basecame tempat kami biasa berkumpul.
“Aku bosan! Aku akan berkeliling sebentar.” Sahutku sambil bersiap memasukkan kunci lalu menghidupkan motorku.
Tak perlu banyak kata lagi, aku langsung meninggalkannya seorang diri. Ku tarik gas motorku sekencang mungkin hingga menusuk telingaku sampai pengang agar aku bisa melepaskan bebanku meski hanya sesaat.
Aku tidak peduli dengan cara pikir teman-temanku tentang diriku sekarang. Saat ini aku sedang pusing memikirkan biaya sekolah adikku sementara aku tidak bekerja. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin membiarkannya putus sekolah begitu saja.
Kejadian semalam terus-menerus membayangiku seharian ini, sampai-sampai aku tidak tidur karenanya.
Kepalaku terus saja berpikir dan berpikir mencari solusi. Dengan kecepatan 120 km/jam, mengenakan helm fullface aku berkendara lurus ke depan dengan pasti. Andai aku pun bisa melakukannya dengan hidupku semudah aku menggenggam stang motor ini sesuai kemauanku.
Kalau saja bukan demi adikku, aku mungkin sudah bunuh diri sejak lama. Memiliki keluarga yang broken home, semuanya sungguh menjadi berantakan! Kenapa mereka yang berselisih sementara di sini kami lah yang harus menanggung resikonya dan menjadi korban keegoisan mereka?
Aku tak pernah sanggup dan mampu jika membayangkan Adikku yang akan menangis karena harus kehilanganku sementara ia tak memiliki siapapun di dunia ini selain aku, kakaknya.
Kenapa Tuhan tak pernah adil kepadaku?! Menjadi kakak sekaligus orang tua untuk adikku sudah kulakoni. Tapi apa yang dia berikan untukku? Aku malah harus kehilangan pekerjaanku di saat aku benar-benar sedang membutuhkan uang?
Banyak yang mengatakan kalau jalan keluar selalu datang saat kita sudah benar-benar terpojok di satu sudut. Dan saat ini aku rasa aku sudah benar-benar terpojok! Tapi di mana jalan keluar itu? Aku ingin tahu! Apakah tidak cukup aku menangis dan meronta seperti ini Tuhan?! Kumohon…….
Dan pada akhirnya sebuah mobil sport berwarna merah melintas dengan santainya tepat di hadapanku ketika aku tengah memacu motorku dengan kencang. Padahal jalurnya sedang lampu merah, kenapa dia tidak berhenti?
Apa dia tidak melihatnya?
Apa-apaan dia? Kenapa dia tidak mau berhenti?
Hei….!!!
Kubunyikan klakson motorku berulangkali. Akhirnya dia sadar kalau ada aku yang akan datang dari jalur kanan.
Namun terlambat!
Aku tidak bisa mengerem!
Jarak kami semakin dekat.
Bagaimana ini?
Apa yang harus kulakukan?
Terpaksa aku harus membanting stir dan merelakan motor kesayanganku terseret aspal jalanan.
Sempat kusaksikan dengan sisa kesadaranku saat itu, mobil itu pun nampaknya melakukan hal yang sama. Si pengendara membanting stir ke kiri untuk menghindariku.
Kemudian tubuhku terpelanting lalu berguling-guling di atas aspal jalanan hingga helmku terlepas dari kepalaku.
Masih bisa kulihat mobil sport merah itu. Rupanya ia menabrak tiang lampu lalu lintas di jalur seberang.
“Aaaarrgghh…..”
Sakit sekali!
Tubuhku terasa hancur. Aku tidak bisa menggerakkan tangan dan kakiku.
Tolong…
Tolong…
Berbicara pun sulit.
Apakah aku akan benar-benar berakhir di sini?
Oh, Sofia… Maafkan aku….
***