Cerita Hijrahku Melalui Jalur Tahsin

Tahsin Al Ghozy Wasilah Hijrahku

Assalaamu’alaikum teman-teman… Ketemu lagi sama Mimin yang setia pengen ngajakin kamu semua untuk hijrah bareng Mimin pastinya dong ^_^

Kali ini Mimin bawa cerita asli pengalaman pribadi Mimin sendiri buat kamu semua. Buat yang penasaran, langsung aja scroll ke bawah ya, hehehe…

Mungkin kamu pernah mengalami peristiwa mengesankan yang bikin kalian jadi berdebat dan bergelut dengan pikiranmu sendiri.
Dalam hal ini Mimin ambil contoh misalnya pada saat kamu sedang membaca Al Quran atau mengaji, tiba-tiba saja ada salah satu dari temanmu atau
orang lain yang tanpa sengaja mendengamu seolah bersika menyalahkan bacaanmu atau membenarkan bacaanmu?

Jujur, Mimin pernah mengalaminya, lho. Dan menurutmu, kira-kira sikap apa yang Mimin ambil pada saat itu? Karena merasa sejak kecil Mimin di besarkan di sekolah yang berbasiskan islami, dari mulai Ibtidaiyah, Tsanawiyah bahkan sampai Aliyah, jadilah Mimin percaya diri dan merasa sudah cukup ilmu dan menolak semua pembenaran-pembenaran yang menyalahkan pemahamanku tentang ilmu tajwid selama ini. Biasalah ya, merasa diri paling benar akhirnya harga diri meronta. Astagfirullah…

“Mungkin kamu sudah belajar tajwid di sekolah sejak kecil, tapi kamu mungkin belum mengenal tahsin?!”

Sebaris perkataan darinya itu pun terus-menerus terngiang dalam pikiranku. Mimin pun mulai meragukan diri sendiri dan melapangkan dada untuk menerima perkataan itu sebagai wasilah kalau Mimin memang masih kurang ilmu dan kurang pengetahuan. Akhirnya Mimin pun mulai mencari-cari jawaban dengan mendengarkan ceramah-ceramah ustadz yang membahas prihal masalah tajwid dan tahsin memalui Youtube pada saat itu. Maka Mimin pun mendapatkan jawaban menohok dari salah satu ceramah Ustadz Adi Hidayat, semoga Allah senantiasa merahmati beliau. Dalam salah satu ceramahnya, kurang lebih beliau pernah mengatakan bahwa Tajwid dan Tahsin itu sama saja. Itu hanya dua kata yang berbeda namun memiliki maksud yang sama. Yaitu ilmu yang sama-sama mengajarkan tentang kaidah dan tata cara membaca Al-Quran yang baik dan benar. Dulu orang-orang menyebutnya dengan nama Tajwid. Namun seiring berjalannya waktu, cara pengucapan orang-orang yang membaca Al Quran dirasa banyak yang kurang bahkan tidak tepat. Makharijul huruf juga sifatul hurufnya banyak yang keliru. Akhirnya muncullah metode Tahsin bagi mereka yang dirasa sedikit banyak mengetahui tajwidnya, namun masih perlu disempurnakan lagi. Tahsin maksudnya perbaikan.

Nah, setelah mendengar penjelasan Ustadz Adi Hidayat tersebut, akhirnya Mimin pun menghijrahkan diri dan mulai menyadari kekurangan ilmu yang Mimin miliki. Dan kebetulan mertua Mimin ternyata sudah bergabung dengan salah satu pengajian yang khusus membahas tentang Tahsin. Subhanallah… Allah itu kalau sudah berkehendak bener-bener serba nggak disangka deh, teman-teman. Mungkin ini salah satu tanda cinta Allah buat Mimin yang ingin supaya Mimin makin memperbaiki diri, lagi dan lagi. Akhirnya beberapa beberapa bulan berselang, dan memastikan bahwa adan dibukanya tahun ajaran baru, Mimin pun ikut bergabung dengan Tahsin Al-Ghozy di komplek Yasmin V di kota Bogor tahun 2019 lalu dengan bimbingan mertua tersayang. Semoga beliau pun mendapatkan pahala jariyah karena menjadi wasilah Mimin untuk berbenah diri. Saat itu alhamdulliah masuk ke kelas Tahsin A, dan sekarang program belajar tahsin tersebut masih Mimin ikuti meski ditengah pandemi seperti saat ini.

Nah, itu dia cerita Mimin tentang asal mula Mimin hjrah melalui jalur Tahsin. Buat kamu yang pernah atau belum sama sekali mengenal Tahsin, yuk bagi cerita kalian di kolom komentar di bawah ya… Jangan lupa follow juga WP Mimin, biar nantin Mimin folback, OK!

Tinggalkan komentar