Hijrah Itu Sama Dengan Move On

Salah satu penyebab hijrahku untuk pribadi muslimah yang lebih baik, salah satunya adalah karena aku tersadar akan siapa jati diriku yang sebenarnya.

Menyepelekan dosa, mengentengkan perbuatan maksiat, bermalas-malasan bahkan lalai dalam beribadah, menyibukkan diri dengan dunia, enggan melakukan perbuatan baik, bersikap semaunya, tidak pernah mengindahkan akhlak dan adab seorang muslim sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Astaghfirullah…

Iya itulah masa laluku. Aku yang menyedihkan dan mengecewakan diriku sendiri hingga akhirnya minder dan malu menghadap Allah yang Maha Agung.

Saking malunya hingga pernah suatu hari aku pun berputus asa karena terpojok dengan berbagai macam masalah yang menghujani hidupku. Aku sadar betul bahwa menangis bukanlah solusi untuk semua masalahku. Tetapi aku tidak pernah mengembalikan segalanya kepada yang maha mendatangkan masalah itu untuk kumintai solusinya. Betapa Sombongnya aku kala itu. Namun Allah tetap membelaiku dengan kasih sayang-Nya.

Entah kenapa suatu hari setelah aku merasa lelah dengan masalah-masalahku yang teramat menekanku, dan air mataku yang juga turut kering sampai-sampai tak sanggup lagi keluar, saat itu aku iseng membuka YouTube dan mengetik di kolom pencariannya dengan tagline “putus asa dengan hidup”, kemudian munculah rentetan pilihan video yang YouTube rekomendasikan untuk kutonton itu. satu persatu ku baca judulnya hingga kutemukan ceramah dari salah seorang Dai kondang.

Saat itu aku tidak pikir panjang dan dan mengklik video itu begitu saja. Beberapa saat kemudian akhirnya aku kembali menangis. Namun tangisanku kali ini berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya aku menangis karena masalah-masalah hidup yang harus kuhadapi, maka kali ini aku menangis karena kekecewaanku terhadap diriku sendiri. Apa kalian tahu kenapa?

Aku mulai sadar kalau hidupku ini sudah diatur takdirnya oleh sang Maha Pencipta. Apapun Pilihanku semua sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Tapi ada satu hal yang aku lupa, bahwa sejatinya nasibku masih bisa ku rubah dengan tanganku sendiri Selama aku masih memiliki hak untuk hidup di dunia ini. Dari sinilah aku mulai mencoba meninggalkan duniaku aku sesaat.

Siapa aku sebenarnya?

Kenapa aku dilahirkan dan untuk apa aku hidup di dunia ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu pun mulai merasuki pikiranku. Perlahan-lahan mulai kurunut dan kusangkut pautkan segala yang berhubungan dengan pertanyaanku itu.

Berikut segala pertanyaan beserta jawabannya yang akhirnya kudapat beserta sumber-sumbernya

Tinggalkan komentar